Kamis, 01 Desember 2011

Call of Duty : Modern Warfare 3 (Repack) + Fix Crack




Download CRACK :

Cara Install :
  1. Pilih salah satu server saja (cbtp, idws, atau mf) - Download Semua Part (DVD 1 dan DVD 2)
  2. Gabungkan file : IDWS :
    * Gabungkan dengan WinRAR
    * Nantinya akan menjadi : COD_DVD1.iso dan COD_DVD2.iso
  3. Ekstrak DVD1 dan DVD2 dengan POWERISO
  4. Setelah di Ekstrak - Gabungkan DVD2 dengan DVD1 dengan cara :
    * Copy file yang ada di dalam DVD2 ("Setup-3.bin" dan "Setup-4.bin")
    * Paste di folder DVD1

  5. Jalankan 'Setup.exe' untuk mulai Install - Install seperti biasa.
    * Instalasi membutuhkan waktu sekitar 2 Jam.
  6. Setelah selesai Install, Copy Cracknya ke folder instalas - Overwrite (Copy and Replace) - YES
  7. Play the Game
Notes :
Ko Installnya lama banget sampe 2 jam?
Ini karena saya share versi Repack (BlackBox), dimana sebenarnya CODMW3 ini ukurannya 14GB namun sudah di kompress hingga 5GB saja, jadi pengekstrakan akan lebih lama.

Semoga Bermanfaat ^_^


Kamis, 13 Oktober 2011

LANGKAH-LANGKAH MENGINSTAL WIN XP


LANGKAH-LANGKAH MENGINSTAL WIN XP
·         MEMBUKA BIOS
1.      Waktu star  up loding tekan delete/F2 berulang
2.      Masuk pada bius ubah CD ROM/DVD  ( bila sudah ada )
3.      ESC sampai ke menu awal, lalu tekan F10 kemudiam  OK
4.      Tekan sembarang tombol hingga loding instal (setelah selesai)
a.      Enter
b.      Tekan F8 ( tunggu ... )
c.       Kemudian Esc

·         MENGUBAH PARETAS / MEMBAGI PARTISI
A.      Yang diperhatikan membagi Hardish
B.      Tekan D untuk Delete
C.      Tekan C untuk Coppy

·         INSTAL  SYSTEM
a.      Pilih Paretas/Partisi C untuk di Instal
b.      Tekan enter ( tunggu sampai diminta serial number / key

MENABUR KEBENARAN DIRUNDUNG NESTAPA

MENABUR KEBENARAN DIRUNDUNG NESTAPA
(M.Nirwan Rifani)
Hari ini adalah hari terakhirku liburan dirumah, karena hari ini aku akan kembali ketempat asalku yang sangat terang benderang dengan ilmu dunia wal akhirat, dan terletak di desa agak sedikit terpencil, tapi bagiku tempat bukanlah apa-apa,karena disana bagiku tempat dimana kembali untuk menuju kejalan yang lurus, jiwa dan hati ini terasa tenang jika aku tinggal disana, dan sebut saja namanya Pondok Pesantren Nurul Amin Muhammadiyah Alabio Kalimantan Selatan.   
Subuh yang begitu sejuk dan bintang-bintang  yang masih bertaburan dilangit, dan dingin yang menusuk kulit para insan. Adzan subuh berkumandang dengan suara yang merdu dan nada yang sangat indah didengar oleh orang-orang islam,yang mana biasanya memanggil para santriwan dan santriwati untuk melaksanakan sholat subuh berjama'ah di mesjid.
Aku berjalan menuju mesjid dengan mata yang mengantuk dan berjalan seperti orang mabuk, karena aku sungguh mengantuk sekali gara-gara tidurnya agak kemalaman, dan anggap saja aku ini orangnya sedikit pemalas.Sebut saja namaku Mahlan An-naba, bisanya aku dipanggil Naba.Tak lama aku berjalan seperti orang mabuk, akhirnya sampailah di tempat wudhu mesjid dan langsung mengambil air wudhu hingga rasa kantukku mulai hilang. Walau keadaanku masih sedikit buyar, aku masih semangat untuk melakukan sholat subuh berjema’ah, karena barang siapa yang meninggalkan sholat maka adalah temanya Syaitan, danakan mendapatkan ganjaran diakhirat kelak, karena aku juga manusia yang takut dengan azab Neraka.     
Sholat subuh pun mulai diimami oleh seorang ustadz dan sunyi hening tak ada bunyi suara yang bercakap-cakap, hanya terdengar suara lantunan-lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan irama yang alun,merdu menghanyutkan jiwa dan menentramkan qalbu ku yang lemah ini.Setelah sholat subuh berakhir, kegiatan di isi dengan ceramah agama yang di bawakan oleh Ust.Ridho Muzaki beliau adalah penceramah yang sangat handal serta disegani.beliau adalah asli orang Kalimantan yang dilahirkan di Martapura. Aku hanya bisa tertegun dan terkagum-kagum mendengarkan ceramah yang beliau sampaikan serta mencatat apa yang telah disampaikan oleh beliau walaupun mataku agak sedikit ngantuuuuk  he…he…he….                                                                                                                                             Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB semua santri bergegas untuk mandi serta sarapan dan bersiap-siap pergi kesekolah.Aku sebagai seorang santri yang baru class junior biasanya aku hanya mengalah kepada kaka yang lebih tua, tapi pagi ini aku sangat bahagia soalnya mereka mau mengalah kepadaku untuk mandi duluan.Kerena kamar mandinya hanya dua buah dalam satu kamar jadi harus bersabar mengantri.                                                                                                                                                                Perutku sudah kenyang dan aku bersyukur Allah masih bisa memberiku kehidupan dengan sehat wal’afiat dan tumbuh menjadi orang yang berguna dan berilmu.Dan saatnya bagiku untuk pergi kesekolah, diponpes Nurul Amin terdapat beberapa sekolahan yang sudah di sediakan, yaitu MTs.Mu’allimin Muhammadiyah Alabio dan MA.Mu’allimin Muhammadiyah Alabio dan sekolah ini cukup sederhana dan memiliki fasilitas yang pas-pasan tidak terlalu mewah seperti sekolah lainya.Dan aku baru duduk dikelas VII MTs dan orangnya tidak terlalupintar.Waktu terus berputar dan sampai akhirya bel pulang sekolah berbunyi.       
Setelah pulang sekolah para santriwan atau pun santriwati diwajibkan menjalankan peraturan-peraturan pondok pesantren seperti biasanya, yaitu seperti memakai bahasa keseharian berbahasa Arab dan B.Inggris, dan  apabila kedapatan siswa yang melanggar ada beberapa hukuman yang akan diterima oleh para santri.                                                                                                                                                                        Lalu aku merasakan denyutan rasa sakit dikepalaku dan penglihatanku agak gelap dan berkunag-kunang, mungkin beban pikiranku terlalu dipaksakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya, dan aku merebahkan tubuhku yang agak lumayan kecil ini keatas ranjang yang sedikit berantakan. Tak lama aku merabahkan diri ternyata aku melihat Rif’a didepanku “ Akhii…apakah kamu baik-baik saja?” ia bertanya kepada ku dengan nada yang agak lembut didengar. “kepalaku pusing Rif dan penglihatanku agak buram”. Akupun setelah itu langsung meminta Rif’a untuk membelikan obat sakit kepala keseberang pondok pesantren.                                                                                                                                  Tak lama kemudian Allahuakbar… Allahuakbar…  panggilan untuk sholat Zhuhur pun berkumandang memanggil umat muslimin untuk bersujud menyembah kepada sang Khalik.    Tapi dengan keadaan lemah lunglaitak berdaya, aku seperti tak bisa bangkit dari pembaringanku untuk berangkat menuju rumah Allah, karena sakit kepala yang datang tak diundang.Sedang para santri lainnya sudah menuju mesjid untuk besujud,bersimpuh kepada yang Maha Kuasa.Padahal aku tak ingin meninggalkan sholat berjama’ah, tapi harus bagaimana lagi aku hanya bisa sholat dikamar sambil berbaring, tak lama aku berdzkir.Tak terasa mata ini hanyut seperti sudah tak sadarkan diri lagi, perlahan-lahan kupejamkan mataku dan kubiarkan mata ini menutup dengan sendirinya. Tetapi salah seorang santri dikamar sebelahku tidak ikut sholat Zhuhur berjema’ah yaitu Ma’ruf, karena ingin melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah  SWT, yaitu adalah perbuatan mencuri.  Karena ia tak punya uang lagi untuk biaya kesehariannya di pondok. Kenapa manusia masih banyak yang mau melakukan hal yang tidak disukai ALLAH, padahal mereka sudah tahu bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang tercela, dan untuk kebutuhannya sehari-hari saja masih menggunakan uang yang tidak halal.Apakah mereka tidak bisa bersabar untuk tidak melakukan semua itu?Begitulah manusia yang tidak memiliki keimanan yang tidak kuat.                 
Ma’ruf berjalan dengan mata yang kesana kemari bagaikan mata capung kalau-kalau ada yang memperhatikannya dari suatu tempat. Selang beberapa waktu kemudian pintu kamarku terbuka perlahan-lahan,lalu ia menyelinap kekamarku dengan berjalan agak mengendap-endap supaya berjaga-jaga kalau ada orang lainyang melihatnya, aku tidak menyadari bahwa Ma’ruf telah masuk kekamarku karena aku tertidur lelap dan terbawa mimpi yang indah, dan akhirnya ia membuka lemari salah satu temannya sendiri yakni Rizkan dan berhasil  mendapatkan pulus yang cukup banyak dari lemarinya Rizkan. Kemudian ia melihat aku yang sedang tertidur lelap di atas ranjang yang agak berantakan tadi, dan ia berfikirakan  menjadikan aku kambing hitam didalam permainannya.                                                                                                                      Ba’da sholat Asyar semua santri menuju kamarnya masing-masing dengan jiwa yang tenang, mereka berjalan berderet bagaikan semut yang pulang kerumahnya. Suatu ketika Rizkan membuka lemarinya dan langsung kaget dengan mata yang terbelalak “Haaaaahhsiapa yang melakukan ini semua!” ia berkata dalam hatinya. Melihat lemarinya terhambur berantakan kesana-kemari seperti kapal pecah, dan yang paling parah adalah uang yang ada di dalam dompetnya hilang tanpa ada sisa sedikitpun.Tidak tahu siapa maling yang mengambil pulusnya Rizkan.Pada siang itu di kamarku ribut sekali gara-gara ada kasus pencurian.                  
Lalu Ma’ruf datang dengan muka yang tak bersalah langsung berkata “Akhii ada apa ini ribut-ribut?”Ia berkata seraya tidak tahu apa-apa. “Uangnya Rizkan hilang akh… tidak ada sisa lagi di dalam dompetnya, kami semua tidak tahu siapa melakukan semua ini.Kami semua turut kasihan sama dia” Fachrizal menjelaskan semuanya dengan muka yang sangat serius. “Yaa… ikhwan jami’an coba dengarkan aku, coba kalian pikirkan siapa yang tertinggal di kamar pada waktu sholat Zhuhur tadi, siapa lagi kalau bukan An-Naba yang tertinggal dikamar. Mungkin dia yang mencurinya!” Ma’ruf menuduhku mencuri uangya Rizkan padahal ia sendiri yang melakukannya. Lalu mereka langsung percaya kepada Ma’ruf, dan langsung mereka membangunkan tidurku yang lelap tadi. Dan aku langsung dituduh mencuri, padahal aku tidak tahu apa-apa yang telah terjadi. Lalu mataku berkaca-kaca mengucapkan sumpah kepada mereka bahwa aku tak pernah mencuri, tapi mereka malah tidak percaya kepadaku dan mengelak. Mereka tidak percya dengan sumpahku malah mereka menjawab “Haaalah...paling alasan kamu bersumpah seperti itu biar kami percaya!” Semuanya tidak ada lagi yang percaya kepadaku. Aku hanya bisa pasrah dengan semua keadaan yang menimpaku.                                                                                                                                                                Semuanya menganggap bahwa semua itu hanya alasanku saja. Lalu aku coba mengelak kepada mereka, tapi semua itu hanya sia-sia, semuanya tidak ada yang percaya kepadaku lagi, aku seperti dibuang oleh mereka. Aku tak diperdulikan lagi oleh semua santri di pondok pesantren ini.                                                       Jam 09.35 malam, pusing di kepalaku sudah mulai reda, tapi masih ada masalah besar yang masih mengganjal pikiranku. Aku merenungkan siapakah sebenarnya yang telah mencuri uangnya Rizkan siang tadi, dan aku mengambil sisi positifnya saja mungkin semua ini cobaan untukku “Ya Allah mudahkanlah hamba-Mu ini untuk menghadapi semua ini!”. Dan aku takut kalau semua kejadian ini akan dilaporkan kepada ustadz. Hal ini akan mempersulit masalah dan akhirya aku bisa terkena sanksi hukuman berat, karena aku telah dituduh melakukan perbuatan mencuri.                                                                                                                       Baru saja aku memikirkannya semua itu terjadi, aku di panggil kekamar ustadz untuk di sidang, tak tau siapa yang melaporkan diriku yang pastinya aku sangat kesal, aku tidak merelakan siapa yang melaporkan kejadian ini. Aku berjalan menuju kamar ustadz sambil terbawa malu, karena aku di cacimaki sama santri-santri dengan sebutan maling mata duitan. Aku kesal sekali di bilang seperti itu, hatiku mulai memanas bagai bara api yang keluar dari gunung meletus, tapi untungnya aku bisa sabar dan tabah menghadapinya.         Tidak lama aku berjalan,didepanku sudah menghadang pintu yang membuatku gemeteran, seperti di ambang pintu neraka saja hehehe.... lalu aku mengetuk pintu kamar Ust.Kholid dan berfikir apa yang terjadi di dalam sana nanti, aku merasa gugup dan ada rasa takut yang melandaku. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirahim aku langsung mengetuk pintu.
Tok...tok...tok “Assalamu’alaikum”                                       
      “Wa’alaikumsallam” ust.Kholid serta membukakan pintu untukku.
      “Mahlan silahkan masuk dan duduklah! saya memanggil kesini cuma ingin kejujuran kamu?
      “Iya Pak ustadz”jawabku dengan bibirterasa gemetaran.
“Apakah kamu benar mencuri uangnya Rizkan?”
      “Tidak ada ustadz, saya Cuma kena tuduh saja!” aku menjawab dengan muka yang pucat seperti orang yang mau meninggal dunia, dari pada aku sangat gugupnya.
      “Benar kamu tidak mencuri!!” pak ustadz mulai membentakku
      “Benar pak ustad, saya tidak pernah mencuri uangnya Rizkan.” Aku tetap membela diriku, karena memang akulah yang benar.
“Saya tidak percya, soalnya kamu cuma sendirian di kamar pada waktu sholat Zhuhur kata santri-santri yang lain dan katanya kamu sakit? Paling itu alasan kamu saja kan!” kata ustadz.
“Sekarang setelah sholat Zhuhur nanti kamu siap-siap untuk menerima sanksi” kata Ust.Kholid yang sekarang sudak tidak mempercayaiku lagi.
      “Tapi pak ustadz saya...” Belum sempat habis aku berbicara sudah dipotong beliau.
      “Tidak ada tapi-tapian lagi, sekarang kamu pulang kekamar dan istirahatlah.
      “Baiklah saya akan istirahat. Assalamu’alikum...!” aku hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.                                                                                                                                                               Adzan subuh sudah berkumandang, semua santri bangun dari tempat tidurnya yang agak empuk, semuanya berjalan menuju mesjid untuk meminta ampun kepada sangKhalik, tapi subuh kali ini agak berbeda bagiku. Aku kepikiran bagaimana nasibku setelah sholat Zhuhur nanti.                                                                                                                       
Setelah sholat subuh aku hanya berdo’a kepada sang khalik supaya di beri kemudahan. Lalu Ma’ruf menghampiriku dan menghinaku dengan sungguh menusuk hatiku yang paling dalam, hatiku bagaikan ditusuk oleh sebilah anak panah yang berapi. Aku tetap sabar, karena aku tidak mau melakukan kesalahan lagi, walaupun itu semua menyakiti perasaanku. Sebentar lagi memasuki sholat Zhuhur aku semakin gelisah, aku mondar-mandir dikamar entah apa yang aku pikirkan,semua santri yang ada di kamarku cuma bisa menertwakanku saja. Karena mereka tidak kasihan lagi sama aku, aku di anggap sudah mencemarkan nama pondok pesantren. Dan kejadian ini hanya terjadi pada tahun ini saja ada kasus seperti ini di pondok pesantren Nurul Amin. Mulai sejak dulu tak pernah kejadian seperti ini.                                                            Sholat Zhuhur telah tiba saat inilah bagiku untuk bersiap-siap untuk menerima hukuman dan dipermalukan dimuka semua santriwan dan santriwati. Aku hanya bisa berdo’a saja tidak ada pilihan lagi kecuali berdo’a. Sholat zhuhur telah berlalu. Santri-santri hanya diam sunyi hening tak ada suara, tiba-tiba terdengarlah sebuah suara yang memanggilku untuk berdiri di depan para santri dan seluruh para asatidz. Pada saat itulah perasaanku mulai goyah, aku tak kuasa lagi membendung rasa gugupku ini “Ya Allah tolonglah Hamba-Mu ini”. Ini semua adalah pertanda buruk bagiku. Yang pertama aku mendapatkan hukuman 15 kali cambukan dikaki, lalu aku memejamkan mataku menghayal seolah-olah aku tak apa-apa. Tapi kenyataanya itu sebaliknya dan Staattsszz....cambukan sudah dilancarkan kekakiku, aku merintih-rintih kesakitan dan mataku mengeluarkan air mata kesedihan yang mendalam. kakiku berbekas merah-merah dan berdarah. Aku menangis dan merintih seperti kuda yang sehabis dipukuli bokongnya dengan cambuk.              Hukuman kedua rambutku ditarik dengan tak ada rasa kelembutan, lalu gunting yang tajam memotong mahkotaku yang berharga. Maka jadilah rambutku gaya style setengah botak dan tidak rapi, aku merasa tersipu malu sekali terhadap seluruh santriwan dan santriwati maupun asatidzdanasatidzah yang menonton aku di hukum. Aku hanya menundukkan kepalaku karena aku sungguh sangat di permalukan  . Lalu aku dijemur di tengah terik matahari yang sangat panas yang menusuk kulit ini sampai menusuk tulang-berulang tubuhku, karena harinya sangat panas setelah sholat Zhuhur tadi. Semuanya menertwakanku anggap saja aku ini sebagai bahan ejekan semua santri, tapi aku mencoba untuk menghiraukannya. Ku pejamkan mata ini lalu aku berusaha untuk tidak mendengarkan suara orang-orang yang mengejekku.                                                                 Aku berjalan dengan berat hati dan menundukan kepalaku sambil menangis meneteskan air mata yang terus berjatuhan dari mataku yang kemerah-merahan dan muka yang masam sambil menahan malu. Setelah3 jam dijemur dan menjalani hukuman akupun berjalan menelusuri pelataran pondok hendak menuju kekamar dengan perasaan tidak karuan dan hati yang buram meratapi nasib yang kualami hari ini.  Setelah sesampainya dikamar akupun bergegas membaringkan tubuhku yang kelelahan menghadapi hari yang sangat berat ini.Aku berfikir dan sangat ketakutan kalau-kalau ustadz akan melaporkan semua kejadian ini kepada kedua orang tuaku, pasti mereka akan sangat kecewa pada diriku atas apa yang semua tuduhan yang orang limpahkan padaku.                                                                                                                                                    Semoga saja mereka tidak mempercayai semua itu.”Ya Allah bantulah aku mengadapi semua ini”.Aku serasa sudah lelah menghadapi semua masalah ini, apakah ini semua hukuman dari-Mu karena aku melakukan kesalahan, atau semua ini adalah cobaan untukku yang engkau berikan agar aku lebih bisa bersabar dalam menjalani hidup didunia-Mu yang fana ini” tegasku agar aku lebih taat.                                                      Saat semua kejadian ini hidupku terasa terbebani untuk hidup di dunia ini, yang hari-hariku diselimuti dengan rasa sakit yang ku rasakan.Aku hidup tidak merasa semangat lagi,dengan lemah lunglai aku berjalan menuju kesuatu tempat entah kemana aku berjalan, aku merasa diriku ini sudah gila tak tau lagi arah tujuan, lalu aku terjatuh dan tak sadarkan diri lagi.                   
Beberapa lama aku dalam keadaan lemah tak berdaya setengah sadar,lalu ada datang seseorang menghampiriku entah tak tau siapa, ia mengangkatku terus menggendongku pulang ke asrama pondok.Semua santri melihatku terpana melihat aku jatuh pingsan.Lalu gerombolan santri membawaku ke ruang poskestren untuk menyelamatkan nyawaku.                                                                                                            Matahari pun sudah mulai tenggelam, dan akhirnya pukul 08.30 malam, tapi tak diduga aku kejang-kejang akan ajal menjemputku pulang kemana tempat asalku dilahirkan, dan sudah mau meninggalkan dunia yang keji dan fana ini. Perawat-perawat yang ada diposkestren itu pun hanya bisa pasrah melihat aku terbaring di atas kasur yang berwana putih dan mukaku yang putih pucat. Orang tuaku tidak tahu atas semua kajadian ini bahwa aku mengalami sakit yang sangat fatal .                                                                                                Lalu Ma’ruf menengokku, dan langsung terkejut melihat dengan keadaanku sekarang ini yang sudah sekarat, jantung Ma’ruf pun berdetak kencang seperti genderang yang mau perang. Hatinya mulai goyah ia takut kalau aku akan meninggal dunia, karena ia yang sudah menjadikan aku sebagai kambing hitamnya. Dalam hatinya pun berbicara “Aku menyesal dengan semua perbuatanku, bagaimana aku harus membalasnya” ia pun kebingungan dan seraya berkata “Ya Allah ma’afkanlah perbuatan hamba-Mu ini, aku mengakui aku telah menpunyai banyak dosa besar”.Ia tertegun dan merenungkan bahwa ia mempunyai banyak kesalahan kepadaku. Lalu Ma’ruf ingin bertaubat dengan besungguh-sungguh dan ia menucapkan sumpah kepada Allah mulai hatinya yang paling kecil, bahwa ia akan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Ia sadar bahwa perbuatan ini sudah sangat keterlaluan dan dibenci Allah SWT.                                                                                    Malam yang sunyi hanya terdengar suara jangkrik dari rerumputan yang menghiasai malam kelabu dan cahaya kelap-kelip kunang-kunang yang menerangi kudratnya malam.Ma’ruf merintih menagis berdo’a waktu sholat tahajud di Mesjid, ia memohon ampun kepada yang Maha Kuasa.“Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu yang lemah ini, aku tak kuasa menahan rasa sakit ini.Hamba baru menyadari bahwa mempunyai dosa yang sangat besar, ampunilah dosa hamba-Mu ini Ya Allah.Sembuhkanlah An-Naba dari musibah yang ia alami”.Lantunan-lantunan do’a keluar dari mulutnya Ma’ruf yang agak kecil dengan bibir yang tipis sedikit kehitam-hitaman.                                                                                                                                                       Tak tau kenapa paginya keadaanku sudah mulai membaik. Mungkin do’a Ma’ruf telah tersampaikan  waktu sholat tahajud semalam. Kejang-kejangku mulai hilang dan sampai akhirnya aku kembali membaik dan sekarang dapat membuka mataku melihat dunia yang indah dan fana ini.Perawat-perawat terkejut melihat keadaanku yang kembali membaik dan seraya berkata “Alhamdulillah… ternyata Allah telah memberikan karunianya kepada Naba untuk hidup di dunia ini.”Lalu perawat itu langsung mengabarkannya kepada seluruh santri dipondok pesatren Nurul Amin, bahwa keadaanku sudah mulai membaik.                                                                                                                                                         Semua santriwan pun langsung begegas-gegas menuju poskestren di samping asrama pondok untuk melihat keadaanku, dan langsung memelukku dengan erat sambil meneteskan air mata yang berlinar becucuran seperti permata yang berguguran, dan aku bercerita semua kejadian ini kepada mereka semua bahwa aku cuma terkena fitnah.Para santri percaya tidak mungkin aku melakukan perbuatan mencuri. Karena mereka sudah tahu bahwa aku ini terkena fitnah belaka.                                        Sedikit demi sedikit cedraku sudah mulai sembuh, aku sudah bisa barjalan dan beraktifitas seperti biasa meskipun masih terasa pusing bekas benturan pada kepalaku waktu pingsan kemarin.Lalu Ma’ruf menghampiriku dan menyapaku dengan suara yang lembut “An-Naba, bisakah kita bicara sebentar?” kata Ma’ruf.Aku mengiyakannya saja.Ia ingin menceritakan siapa yang telah mencuri uangnya Rizkan pada waktu itu. Dengan mata yang belinang berkaca-kaca dengan hati yang teriris bagai tersayat sembilu  ia menceritakan bahwa ia sendiri yang mencurinya. Lalu Ma’ruf menundukkan dirinya memohan maaf sebesar-besarnya kepadaku, bahwa ia kemarin menjadikan aku  menjadi kambing hitamnya.                                                       Lalu aku aku hanya tersenyum kecil kepadanya, aku merelakan semua apa yang sudah terjadi. Aku memaafkannya dengan tulus ikhlas serta dengan hatiku yang paling dalam.Dengan suasana yang sedih bercampur haru ini ku merasa terharu sekali, mataku juga berkaca-kaca dan ingin sekali sebenarnya aku menangis, tapi semua itu aku tahan aku tidak mau lagi menangis.Dan aku menasehatinyaagar ia jangan menagis lagi, lalu aku seraya berkata kepadanya.  “Sudahlah ruf, aku sudah memaafkan semuanya. Jadi kamu tidak usah menangis lagi kan malu dilihat santri-santri yang lain”. Air matanya pun tak ada lagi keluar dari matanya yang merah gara-gara menagis dengan penuh penyesalan tadi. Para santi yang melihatnya pun turut ikut merasa sedih, dan aku merasa sangat bangga kerena ia sudah berbuat jujur padaku dan aku juga menyuruhnya jujur kepada para asatidz dan asatidzah maupun seluruh santri ponpes Nurul Amin. Supaya tidak ada lagi menimbulkan salah kepahaman, karena para asatidz sudah susah payah mencari kebenarannya.     Ia pun dengan senang hati akan melakukannya, karena ia ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.           Setelah Sholat Isya aku berdua sama Ma’ruf berjalan menuju kamar Ust.Kholid As’ari, untuk mengakui kesalahannya Ma’ruf, dan tak lupa pula untuk meminta maaf kepada kepada asatidz dan asatidzah maupun dengan seluruh santri pondok pesantren. Kami berdua berjalan dengan santai, waktu di jalan taka da kata-kata yang keluar dari mulutku ataupun Ma’ruf, paling saling pandang mata saja. “Mungkin aku mengira semua kejadian ini akan bertambah parah” Hatiku berkata dengan perasaan yang tidak enak      
“Akhi Ma’ruf apa kamu tidak gugup mau menyerahkan diri kepada ustadz?
“Sebenarnya aku gugup sich dan takut, tapi harus gimana lagi aku harus bertanggung jawab kepada semuanya” Ia berkata dengan muka yang agak muram.
“Iya… kamu harus percaya diri menghadapi semua ini.” Aku Cuma hanya bisa memberi  semangat kepadanya, agar ia tidak gugup lagi.    
      “Baiklah, aku akan mencoba tuk percya diri” Ia berkata dengan suara yang lantang.
            Tak lama kami berjalan, kami sudah diambang pintu kamar ust.Kholid dan langsung mengetok pintunya.
       Tok…tok…tok….
      “Assalamu’alaikum....!” kami mengucapkan salam bersamaan.
      “Wa’alaikumsallam....!” Beliau menyahut dari dalam kamarnya yang agak lumaian kecil.
      “Silahkan masuk kalian berdua” Beliau dengan ramah mempersilahkan kami masuk kekamar beliau.
“Terimakasih sudah mempersilahkan kami berdua masuk, dan maaf kami mengganggu ustadz.
“Ada keperluan apa kalian datang malam-malam kaya gini ke kamar ustadz? Apa ada yang kalian sampaikan.” Beliau penasaran ada apa aku dan Ma’ruf datang ke kamar beliau.
“Ini masalah kasus pencurian kemarin pak ustadz!” Ia berkata dengan bibir agak sedikit gemetar.
“Iya ustadz, kami disini akan menjelaskan semua tentang kasus pencurian kemarin.
      “Baiklah, sekarang jelaskan kepada saya semuanya tentang pencurian kemarin!” Beliau semakin penasaran apa yang akan kami seritakan nanti.
            Lalu Ma’ruf sendiri menceritakan dan menjelaskan kepada ustadz Kholid dengan serinci-ricinya, walaupun itu menyakiti hatinya yang bagai tersayat sembilu.
      “Sebenarnya saya maling yang dicari-cari di pondok pesantren ini, dan saya sebenarnya yang mencuri uangnya Rizkan pada waktu itu. Semalam saya sudah menjadikan An-Naba sebagai kambing hitam saya, tapi ia sudah memaafkannya. Naba tidak bersalah, sayalah yang salah” Hatinya tidak merasa tenang cereritakan ini semuanya.
      “Jadi kenapa kamu melakukan semua ini, dan kenapa kamu menjadikan Naba menjadi kambing hitamnya! Kan kasihan Naba, sampai-sampai ia hampir saja meninggal dunia, alhamdulillah Allah masih menginginkan ia di beri kesempat untuk hidup di dunia. Andaikan Naba meninggal kemana kamu meminta maaf, jikalau kamu memohon ampun dan meminta maaf kepada Allah belum tentu Allah akan memaafkannya!”Dengan suara yang lantang beliau berucap di hadapanku dan Ma’ruf.
“Maafkan saya ustadz, saya terpaksa melakukan ini semua. Kemarin saya tidak punya uang lagi untuk biaya keseharian tinggal di pondok, dan saya juga minta maaf buat Naba kemarin itu saya sudah membuatnya dalam permainnan kambing hitam saya, karena saya takut kalu santri-santri yang lain tahu bahwa saya yang mencuri uangnya Rizkan” Matanya bekaca-kaca dan mau menagis.
            Aku mendengarkan saja apa yang mereka bicarakan, aku tidak mau ikut campur.
“Kenapa kamu tidak meminjam uang saja sama santri-santri lain, atau kamu bisa pinjam kepada saya!”
“Saya malu ustadz. Saya malu sama santri-santri yang lain, dan takut kalu-kalau tidak tidak dipinjamkan oleh mereka pulus” Ia sedikit panik.
“Ya…saya mengerti perasaanmu yaa akhi, jadi sekarang apayang kamu inginkan?”
“Saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang telah saya lakukan, dan siap untuk menerima hukuman.”Ma’ruf memberanikan dirinya dengan penuh kepercayaan rasa tanggung jawab.
“Baiklah, itu jawaban yang bagus.Kamu baik sekali sudah mau jujur kepada kita semua.Sekarang pulanglah kalian berdua ke kamar dan istirahatlah”.
“Baiklah ustadz, kami akan istirahat..!” ucapku dengan suara agak rendah dan mencium tangan beliau untuk tanda hormat kami kepada beliau.
“Assalamu’alaikum….!”
      “Wa’alaikumsallam….” Beliau membalas salam dari kami dan melihat kami berdua sambil tersenyum.
            Sekarang waktunya sholat subuh para santriwan dan sanrtiwati bagun dari tempat tidurnya untuk melakukan sholat subuh berjama’ah.Aku bangun seperti biasa danjeratan perban di dahiku yang masih menempel, karena bekas kejadian kemarin dan langsung bersiap-siap menuju rumah Allah. Sedangkan Ma’ruf dia bangun agak telat, karena kelelahan gara-gara memikirkan bagaimana nanti kisah selanjutnya, ia berfikir dirinya nanti akan sangat  malu.
Alunan ayat suci Al-Qur’an terdengar indah yang menyejukkan jiwa ini, aku merasa hati ini terasa tenang dan tentram. Ya Allah inikah yang dinamakan kelebihan dari Al-Qur’an kitab suci orang-orang islam. Aku merasa sangat bangga menjadi orang islam dan aku bersyukur pula Allah telah banyak memberikan kenikmatannya kepadaku.
            Sholat subuh pun sudah berlalu dan pada waktu itulah Ma’ruf akan di minta pertanggung jawaban kepada para asatidz dan asatidzah maupun dengan santriwan dan santriwati. Semua santri di suruh mundur dari sajadah sholat, sedangkan Ma’ruf di suruh berdiri dimuka sendirian dengan menundukkan kepalanya.
Lalu Kh.Ust.Hadi Abwa pengasuh pondok pesantren Nurul Amin berceramah tentang dilarangnya mencuri bagi kaum umat islam, karena mencuri itu adalah perbuatan yang sangat tercela. Dan aku mendegarkannya dengan teliti “ Bagaimana Indonesia mau maju sedangkan generasi anak mudanya saja sudah hebat melakukan perbuatan-perbutan yang tidak di inginkan. Apalah arti bangsa Indonesia? Katanya Indonesia ini terkenal dengan agama Islam, tapi kenyataannya hanya di KTP saja agama islamnya! Dan aku memperhatikan generasi muda saat ini kebanyakannya hanya melakukan perbuatan-perbuatan maksiat,merekatidak ingat lagi dengan sang penciptanya.”Ucapku dalam hati sambil menoleh kedepan memandang Ma’ruf.
Setelah ustadz Hadi ceramah, ia di berikan sanksi yang sesuai apa yang telah ia perbuat. Hukuman ini sama denganku seperti dulu 15 kali cambukan, dicukur gundul, dan di jemur setelah sholat zhuhur. Ma’ruf harus bersumpah dengan Al-Qur’an di atas kepalanya agar tidak mengulangi perbuatanya lagi.
Pertama ia memejamkan matanya saat di cambuk dan cambuk itu terbuat dari rotan yang sudah kering, panjangnya sekitar 1 Meter,dan kecil seperti jari kelingking. Pada cambukan ke-14 ia lumpuh tak berdaya lagi untuk berdiri. Ia merintih-rintih kesakitan dan air mata yang keluar membasahi pipinya. Aku yang melihatnya sungguh sangat kasihan sekali, tapi harus bagai mana lagi karena hukuman itu sudah ditetapkan oleh para asatidz,danhukumnan kedua akan di lanjutkan setelah sholat Zhuhur nanti.
Sholat Zhuhur telah tiba, hukuman kedua buat Ma’ruf akan menghapirinya. Semua santri sudah tahu bahwa ada hukuman lanjutan untuk Ma’ruf. Tanpa basa-basi rambutnya langsung dipotong tidak rapi yaitu gaya style botak sebelah, dan langsung dijemur di tengah terik matahari yang sangat panas seperti terhampar di gurun pasir yang cuacanya sungguh sangat panas. Semua santri tidak ada yang mentertawakannya, karena mereka sangat kasihan padanya dan ia sudah bisa jujur kepada kita semua, serta berani untuk bertanggung jawab dengan kesalahannya.
Sampai pukul 03.15 baru Ma’ruf selesai dari hukumannya, ia berjalan menuju kamarnya sambil menundukkan kepalanya, karena ia sunguh sangat malu sekali, lalu aku mendekatinya “Sudahlah Ma’ruf tidak ada yang harus kamu malukan kepada kita semua, semua santri sudah memaafkanmu, mereka percaya kamu ini adalah orang yang sangat baik  bukan seorang pencuri.  Dan akhirnya ia percaya sama santri-santri yang lain.
Dan setelah kejadian ini berakhir, akhirnya kegiatan-kegiatan pondok pesantren Nurul Amin berjalan seperti biasanya, tidak ada lagi kasus-kasus yang terjadi seperti kejadian kemarin.Aku dan Ma’ruf menjadi teman yang sangat akrab, kami tidak pernah bertengkar.Jika misalnya ada di antara kami berdua yang kesusahan, pasti kami saling membantu dengan tulus ikhlas.Dan orang-orang menilaikami sudah seperti adik dan kaka, dan paraasatidz dan santri juga sangat mempercayai kami berdua.Terima kasih Ya Allah telah membawa kami kejalan yang benar dan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi hidup ini.Serta banyak pelajaran yang dapat aku ambil setelah kejadian ini.      

                                                                                                                                               
The End
Terima Kasih!!

Maaf kalau ada kata2 yang kurang pas.,,,.